Sudah beratus tahun teknologi ban kendaraan tidak berubah, yakni berbahan dasar karet yang didalamnya diisi dengan udara (O2). Apabila ada perbedaanpun hanya sedikit saja misal pada awalnya ban terdiri dari 2 bagian yakni ban luar dan ban dalam yang pentilnya melekat pada ban dalam. Lalu beberapa pabrikan ban mulai melakukan inovasi dengan menggunakan ban Tubeless yakni teknologi ban tanpa ban dalam dimana pentilnya lalu dipasang pada velg semua teknologi ban tubeless memiliki keistimewaan khusus yakni apabila terjadi kebocoran ban tidak langsung kempes melainkan udara hanya berkurang secara perlahan sehingga teknologi ini dapat menekan kecelakaan yang disebabkan oleh kebocoran ban. Setelah itu praktis tidak ada perkembangan yang berarti pada teknologi ban, apabila adapun sebatas penggunaan material pelapis ban dan variasi kembang ban yang dinyatakan oleh pabriknya merupakan suatu pola terobosan yang mampu mengatasi segala macam kontur dan kondisi jalan.
Pada beberapa tahun terakhir mulai banyak penggunaan gar Nitrogen (N2) sebagai pengganti udara. Beberapa kelebihan yang digadang Nitrogen antara lain tidak mudah panas, lebih empuk, bentuk molekul yang lebih besar daripada O2 sehingga bila ada kebocoran kecil yang dapat mengurangi volume O2 mungkin belum terjadi pada N2. Ban yang bisa menggunakan Oksigen juga dapat menggunakan Nitrogen, jadi bila suatu saat anda kekurangan angin anda bisa mengisi dengan apapun pada bengkel pertama yang anda temui.
Tetapi bagaimana bila anda tidak menemui bengkel atau saat mobil bocor ditengah jalan. Sungguh merepotkan bukan? Guna menjawab masalah tersebut banyak pabrikan telah mencoba membuat ban yang tahan bocor akan tetapi empuk dan stabil dikendarai. Ternyata masih belum berhasil. Lalu Michelin, salah satu merk ban yang sudah terkenal memberikan suatu terobosan baru yakni BAN TANPA ANGIN. Dengan ban model ini maka anda tidak perlu repot lagi memikirkan pengisian angin, Jangan berfikir bahwa ini adalah teknologi zaman dahulu dimana mobil menggunakan ban mati (tanpa udara). Pada dasarnya memang tanpa udara akan tetapi ban ini menggunakan bahan khusus yang menjadikannya tetap lentur dan membal saat terkena benturan seperti batu dll. Keistimewaan ban ini tentu adalah tidak mungkin mengalami kecelakaan karena kebocoran ban.
Satu hal yang unik pada teknologi ini adalah ban dan roda merupakan satu kesatuan, dan inovasi itu pulalah yang menginspirasi Michelin untuk memberi nama bagi temuannya ini sebagai Michelin Tweel, dimana Tweel merupakan akronim dari Tire and Wheel. Mengapa dilakukan penggabungan sedemikian? tentu Michelin yang tahu jawaban yang benar akan tetapi menurut inovassi.com fungsi velg pada TWeel adalah sebagai absorbsi atas tekanan pada ban.
Beberapa hal yang masih menjadi kendala pada teknologi ini sepertinya adalah penampilannya yang menjadikan kendaraan secara keseluruhan terlihat kurang trendi. Dengan penggabungan tersebut pengguna tidak dapat bebas memilih bentuk velg dan yang pasti velg yang sekarang umum dipakai sudah tidak dapat digunakan lagi. Namun kita tentu percaya bahwa perusahaan sekelas Michelin pasti telah memikirkan hal ini dan tidak mau kehilangan pangsa pasar kelas menengah keatas yang senang modis gonta ganti velg "demi penampilan". Dari referensi beberapa situs kelihatan ada 2 model ban yakni yang murni Tweel (Ban dan Roda sebagai satu kesatuan) dan satu lagi sepertinya masih menggunakan velg biasa tapi tidak ditemukan informasi lebih jauh tentang model yang kedua.
Berhubung Tweel ini masih dalam tahap uji coba mari kita tunggu saja hasilnya. Yang pasti kita perlu berikan acungan jempol salut kepada Michelin yang telah melakukan terobosan inovatif, semoga temuan ini menjadikan kita dapat berkendara dengan lebih aman. Berminatkah sebagai salah satu pengguna Tweel yang pertama? tunggu sampai Michelin memasarkan ban jenis ini.
Bisa dibayangkan tukang tambal, tukang semir ban dan penjaja velg bekas harus mulai siap-siap mencari nafkah lain karena pelanggan mereka mungkin hanya tinggal para pengendara motor atau mobil yang menggunakan model ban lama. Tetapi setidaknya dalam kurun 5-10 tahun kedepan masih banyak yang menggunakan ban model lama dan dalam kurun waktu tersebut mungkin saja produsen ban lain melakukan terobosan baru. Kita lihat saja.
Komentar:
Ada ban isi O2, ban isi N2 lalu ban sintetis tanpa udara seperti ini. Mungkin kelak ada ban isi kue lapis yang kalau digigit saja sudah kenyal-kenyal lembut siapa tahu justru bagus buat ban. Tetapi kalau parkir mungkin akan dikerubungi semut... :D