Modifikasi genetik berhasil dilakukan oleh seorang peneliti pada hewan tikus, penelitian itu untuk mencegah tikus tersebut dari penyakit, membuatnya tetap aktif dan juga memperpanjang usianya hingga mencapai 19%. Rencananya modifikasi tersebut akan diterapkan pada manusia melalui sebuah obat.
Dari yang diketahui oleh peneliti bahwa dengan mengurangi asupan kalori makanan dapat memperpanjang usia hewan, tetapi mengapa hal itu terjadi sampai saat ini belum diketahui oleh mereka. Oleh karenanya itu penelitianpun dilakukan untuk mencari jawabannya.
Metode penelitiannya adalah dengan melakukan manipulasi pada gentikus agar mereka tidak memproduksi protein, dalam halini adalah protein S6K1. Hasilnya adalah tikus tersebut tidak pernah sakit, yang tentu saja akan berpengaruh pada usinya. Belum diketahui apakah metoda tersebut akan memiliki hasil yang sama bila diterapkan pada manusia.
Hanya saja dari penelitian tersebut hasil posiitif lebih ditunjukkan oleh tikus betina, sedangan pada tikus jantan tidak terlalu Nampak efeknya. Rata-rata usia tikus betina yang berhasil dimodifikasi gennya adalah 950 hari, yang mana angka tersebut lebih panjang 19% dari usia tikus normal.
Tikus-tikus tersebutpun memiliki kulit yang lebih kencang dan tulang yang lebih kuat, selain itu mereka juga memiliki otak yang lebih cerdas.
Dengan keberhasilan metoda modifikasi gen tersebut, peneliti akhirnya mengetahui mekanisme yang menghubungkan antara makan dalam porsi kecil dengan hidup sehat. Dan dengan demikian, obat yang bisa melangsungkan proses modifikasi itu pun bisa dibuat untuk manusia