Home | Info baru | Cerita Berita | Artikel | Intermezzo | Temuan/Kehilangan | Jual/Beli | Tempat Menarik | MEMBER BARU |     LOGIN
Products
Artikel
Berita dalam Cerita
Intermezzo
Daftar tempat
Pasang iklan
Tentang Inovassi
Peta Situs
Inovassi Polling
Apabila ada bencana sekitar anda dan saat itu anda tidak bersama keluarga
Selamatkan diri, yakin pasti mereka melakukan yang sama
Selamatkan diri dan mencari tahu kondisi mereka
Selamatkan diri dan meminta bantuan orang utk mencari mereka
Selamatkan diri dan kalau mungkin baru mencari mereka
Langsung mencari mereka sampai ketemu, hidup ataupun mati
Hasil
Event
Olah Raga

IABC President's Golf Day Program

Seni lukis
Between Techniques and Instictive Framing: 9 Windu Jeihan
Musik
Concert: "Libertas: A Tribute to Universal Freedom and Human Rights"
Seni lukis
Pameran Biennale Pertama Seni Lukis Tradisional Bali 'Pita Prada'
Teater
lakon klasik dari Tiongkok 'Sampek Engtay' di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
Seni lukis

The Dining Room / White lies.

Seni lukis

Kompleksekali

Musik

Jazz "Mben" Senen

Film

Film-film karya sutradara Iran

Seni Rupa
Ceramah Dadang Christanto
Seni Tari

Tari Kreativitat Dance-Indonesia

Seni Rupa

Biennale Anak 2010

Seni Rupa
pameran Candi Prambanan dan Candi Sewu
AWAM memandang ALAM
Artikel | Indeks Artikel
Inovassi.com, Sabtu, 24 Oktober 2009 09:28:57 WIB

AWAM bermain AKAL - #2 dari 2

Oleh: Abah

Perbedaan yang jelas antara Akal dan Nurani
Akal dapat bekerja atas hasil olahan otak, kebutuhan manusia tsb, logika, kesempatan dll. Dan selain itu ternyata Akal juga bekerja atas pengaruh pihak lain, pemikiran Agama dan bahkan hasutan Setan. Sedangkan Nurani sangat teguh dan tidak dapat dipengaruhi apapun maupun siapapun.

Akal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Nurani yakni senantiasa berkembang, sedangkan otak berkembang karena belajar dan terbiasa. Dan solusi / reaksi atas sesuatu akan mungkin berbeda cara mengakali antara satu kasus dengan yang lainnya. Mengenai kelebihan tersebut sang Awam tidak mengatakannya sebagai suatu keistimewaan karena kelebihan tersebut bisa pula condong ke sesuatu yang negatif.

Sang Awam melihat fakta sekitar sering terjadi bahwa orang yang jelas melakukan hal negatif (bahkan kenegatifan tersebut diakui oleh ybs) tetapi hal yang negatif itu tetap dilakukan, terkadang mencari pembenaran atas perilakunya dan bahkan kerap disampaikan sebagai suatu kebanggaan dan keyakinan bahwa itu benar.  Tetapi sang Awam cukup jeli memperhatikan gerak-gerik orang seperti itu dimana setelah ia mengucapkan kebanggaan semu tsb lalu mulut atau tangannya bergetar yang mana berarti tubuh orang tsb mulai Konflik karena sang Nuraninya prihatin atas perilaku Akal orang tersebut dan ingin mengutarakan kebenaran tetapi mulutnya kemudian ditahan oleh Akalnya sehingga mulut ia bergetar, matanya langsung kusam dan pertanda lain yang menyatakan bahwa orang itu tahu bahwa yang disampaikan bukanlah suatu kebenaran.  Semua orang dikarunia oleh sang Khaliq untuk jeli mampu memperhatikan hal yang seperti itu, tinggal seberapa jauh orang tersebut mau mengolah kemampuan tersebut.

Sebenarnya Akal bukanlah suatu yang sah untuk diajarkan kepada orang lain, karena varian dari akal akan banyak sekali. Solusi dari orang yang berakal bila diberikan kepada yang kurang akal hasilnya akan berlainan.  Akal-akalan yang mudah dilakukan seseorang belum tentu dapat dilakukan orang lain.  Itu bukan mutlak karena orang yg tidak dapat melakukan itu adalah orang bodoh atau kurang akal namun bisa juga karena cukup kuat untuk mengikuti nurani sehingga mampu menolak solusi Akal-akalan yang tidak baik.

Contoh yang sangat amat simple.  Otak selalu menghitung 1 + 1 adalah 2 sedangkan dengan Akal jawabannya mungkin 1 atau 3 tergantung bagaimana Akal melihat konsekuensi dari jawaban atau respon yang diharapkan oleh Akal.  Sekalipun demikian Akal sebenarnya mengakui bahwa "2" adalah jawaban yang benar.

Pengingkaran atas kebenaran tersebutlah yang seringkali mengakibatkan KONFLIK TUBUH (Baca AWAM melihat KONFLIK TUBUH)

Kini tinggal tergantung pada kita, selaku manusia, yang (katanya) pintar, seberapa jauh mau mengakali sesuatu? akankah kita selalu melakukan sesuatu dengan Akal negatif? ataukah kita akan mencoba Akal positif yang akan mendominasi? Ataukah kita ingin mencoba untuk melakukan sesuatu dengan cara yang biasa dulu, tanpa mengakali? semua ada efeknya sendiri, semua ada konsekuensi dan hasilnya toh kelak akan kembali kepada kita. Jadi semua itu kembali kepada anda.

Nah sudah matang atau sudah benar kah Akal anda selama ini? pssstt... sudahlah.. kita tak usah repot2 menjawab, biarkan Nurani kita sendiri yang menilai kebenaran jawaban kita sendiri. (Lho kok mengapa Nurani yang harus menjawab? hal itu karena jawaban tsb utk diri anda sendiri jadi biarkan Nurani menjawab dengan kejujurannya, Tetapi bila jawaban anda tsb untuk diketahui orang lain, anda tidak usah repot2 menjawab karena sang Awam meyakini bahwa anda pasti akan menjawabnya dengan kata SUDAH, bukankah begitu?

Sumber: Pribadi
  Komentar (0) | Komentar | Lihat Semua Komentar