|
Dalam dunia kesehatan, hipnosis (yang sebenarnya) bukanlah "barang" baru. Kalangan psikiater dan dokter gigi tertentu sudah biasa menerapkannya untuk terapi. Lingkup kedokteran lebih akrab mengenalnya sebagai medical-hypnosis.
Untuk tujuan terapi, hipnosis bisa diterapkan melalui dua cara yakni dengan bantuan hipnoterapis (dokter atau orang yang terlatih) atau dilakukan sendiri - biasa disebut autohipnosis atau selfhypnosis (hipnosis diri).
Sebagai terapi alternatif, autohipnosis memiliki beberapa kelebihan. Relatif lebih efektif dalam menyembuhkan penyakit. Untuk menghilangkan nyeri, misalnya, terapi ini lebih efektif ketimbang obat-obatan analgesik, termasuk kodein dan morfin. Cara ini juga jauh lebih aman karena tanpa menimbulkan efek sampingan negatif. Hipnosis diri tergolong cara penyembuhan alami dan tidak membuat kecanduan. Lagi pula, relatif lebih murah karena tidak perlu biaya, kecuali untuk proses belajarnya.
Menurut dr. Tb. Erwin Kusuma, hipnoterapis dan psikiater RSPAD Gatot Subroto dan Klinik Prorevital, Jakarta, autohipnosis bisa untuk menyembuhkan penyakit yang berkaitan dengan rekaman-rekaman negatif bawah sadar. Misalnya, daya tahan tubuh menurun, alergi, sakit tenggorokan karena rekaman negatif, sakit perut karena rekaman negatif, dsb. Juga nyeri, baik yang muncul sebagai "alarm" adanya penyakit macam kanker maupun akibat operasi atau persalinan tanpa bius. Bahkan terapi autohipnosis bisa membantu seseorang dalam proses penyembuhan dari ketergantungan narkoba, membebaskan diri dari insomnia (gangguan tidur), dan menurunkan bobot badan.
Menghapus rekaman alam bawah sadar. Manusia pada dasarnya roh yang berbadan. Makhluk rohani (badan halus) yang berjasmani (badan kasar). Ibarat sebuah komputer, yang disentuh terapi hipnosis atau autohipnosis sebenarnya software (piranti lunak), yakni jiwanya (badan halus). Bukan badan kasarnya (jasmani) yang bisa diibaratkan hardware (piranti keras). Nah, tugas hipnosis adalah mengungkap rekaman-rekaman dalam alam bawah sadar (badan halus), membuang rekaman-rekaman negatif, dan memasukkan yang positif.
Seperti halnya dunia kedokteran, autohipnosis juga bisa digunakan untuk tindakan prevensi (mencegah penyakit atau menghindari rekaman negatif), dan promosi (meningkatkan status kesehatan dan ketahanan). Keduanya diterapkan pada kondisi orang sehat. Dalam hal promosi, kondisi badan halus yang kurang sehat disehatkan, kurang seimbang diseimbangkan. Ketika kondisi badan halus sehat, kita bisa meningkatkan ketahanan tubuh. Kalau badan halusnya lemah, ketahanan mental maupun fisik turun. Secara fisik manifestasinya gampang alergi, gampang masuk angin, dsb. Secara mental, gampang menangis atau marah misalnya.
Untuk tujuan prevensi,paling tidak harus bisa mencegah jangan sampai terekam hal-hal negatif. Umpamanya, "bila terkena gerimis akan pusing". Kalau hal itu sampai terekam dalam memori alam bawah sadar, maka begitu kehujanan kita akan pusing. Inilah yang perlu dicegah! Kalau badan sudah telanjur sakit, kita bisa melakukan terapi dengan autohipnosis.
Segala macam memori negatif dalam alam bawah sadar dihapus. Sementara, kalau penyakit sudah muncul di badan kasar (jasmani), pengobatan dilakukan secara fisik. Ini tugas dokter. Namun, kalau hanya penyembuhan secara fisik, masih ada kemungkinan penyakit timbul lagi, karena dalam jiwanya (badan halus) masih tersimpan rekaman itu. Urusan yang tidak kasat mata ini menjadi target terapi hipnosis atau autohipnosis. "Jadi, idealnya ya harus diobati dua-duanya. Penyakit badan diobati, yang berkaitan dengan psikis (jiwa) juga diobati," tegas Erwin.
Demikian pula dalam kasus ketergantungan narkoba. Menurut ketentuan WHO, pencandu narkoba dinyatakan sembuh kalau selama dua tahun tidak lagi menggunakannya. Namun bisa jadi korban narkoba mengaku kapok dan bersumpah tidak lagi memakai narkoba. "Tapi, itu kata dari alam sadarnya. Dalam alam bawah sadarnya mungkin masih tersimpan rekaman program kecanduan," tegasnya. "Kalau rekaman negatif itu masih ada, dia berpeluang terjerumus lagi. Untuk mencegahnya perlu menghapus rekaman negatif (program kecanduan) dan menggantinya dengan rekaman positif melalui hipnoterapi. Dengan menghapus rekaman buruk menggunakan hipnosis, penyembuhannya bisa kurang dari dua tahun. Dengan catatan yang bersangkutan harus tekun. Dia juga dilatih untuk bisa melakukan autohipnosis."
|